Peneliti Survei Economics & Political Insight (EPI) Center, Mursalin. Memperkirakan Partai Solidaristas Indonesia (PSI) Akan Masuk Parlamen di Senayan Jakarta.

Kaesang Pangarep Ketum PSI dan Jane Natalia Suryanto, Ketua Pembina DPW PSI NTT

Jakarta, Ansubanews.com — Survei Economics & Political Insight (EPI) Center menunjukkan Gerindra menjadi partai politik dengan elektabilitas tertinggi dengan dukungan 18,9% disusul oleh PDI Perjuangan (PDIP) dengan dukungan 16,4%.

EPI Center memprediksi peta pertarungan partai politik akan berlangsung dinamis dan Senayan diperkirakan akan kedatangan pendatang baru yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang elektabilitasnya menembus 4,2% atau telah melewati ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4%.

“Gerindra diproyeksikan bakal memenangi Pemilu 2024 sekaligus mengalahkan dominasi PDIP, serta munculnya pendatang baru di Senayan ketika elektabilitas PSI menembus 4,2 persen,” ucap peneliti EPI Center Mursalin dikutip dari Antara, Minggu (21/1/2024).

Menurut Mursalin, potensi kemenangan Gerindra berkaitan erat dengan peta pertarungan Pilpres 2024.

“Dukungan yang diberikan Presiden Jokowi kepada Prabowo-Gibran mengungkit elektabilitas Gerindra sebagai partai pengusung utamanya,” ujar Mursalin.

Hal ini sekaligus membuktikan kuatnya faktor Jokowi dalam menaikkan elektabilitas partai yang didukungnya. Pada Pemilu 2014 dan 2019, perolehan suara PDIP terjaga pada kisaran mendekati 20 persen, naik dari Pemilu 2009 yang hanya berkisar 14 persen.

Sebaliknya dengan Gerindra, ketika Jokowi menjadi rival Prabowo pada Pemilu 2014 dan 2019, perolehan suaranya hanya berkisar 11-12 persen.

Perolehan suara PDIP terancam tergerus, ketika kantong-kantong suara PDIP menjadi lahan garapan Prabowo-Gibran.

“Terakhir, hengkangnya Maruarar Sirait yang merupakan putra tokoh pendiri PDIP memperkuat fenomena pergeseran pemilih,” tambah Mursalin.

Faktor besar Jokowi juga tampak dalam lonjakan elektabilitas PSI, setelah sebelumnya partai baru pada Pemilu 2019 itu gagal menembus Senayan. Kenaikan itu terjadi setelah Kaesang Pangarep, putra kedua Jokowi yang menjadi ketua umum PSI.

Jokowi yang ingin memastikan keberlanjutan program-programnya usai menjabat dua periode merasa perlu tetap mempengaruhi aktor-aktor pemilu. Selain Gibran yang didapuk sebagai cawapres Prabowo, pengaruh Jokowi pada partai juga masuk melalui Kaesang.

PSI diketahui sejak awal memosisikan diri sebagai pendukung kuat kepemimpinan Presiden Jokowi.

“PSI bahkan mengembangkan ideologi Jokowisme yang diartikan sebagai kemajuan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi,” terang Mursalin.

Masuknya PSI sebagai pendatang baru di Senayan berbanding terbalik dengan nasib PPP yang berdasarkan survei EPI Center elektabilitasnya hanya sebesar 2,7 persen.

Survei Economics & Political Insight (EPI) Center dilakukan pada 9-15 Januari 2024, secara tatap muka kepada 1.200 responden mewakili 38 provinsi. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%.

Berikut hasil lengkap elektabilitas partai-partai politik versi EPI Center: Gerindra 18,9%, PDIP 16,4%, Golkar 10,5%, PKB 7,3%, Demokrat 5,6%, dan PKS 5,2%.

Selanjutnya Nasdem 4,8%, PAN 4,6%, PSI 4,2%, PPP 2,7%, Perindo 1,5%, Hanura 0,6%, Gelora 0,4%, Ummat 0,3%, PBB 0,3 %, Garuda 0,2%, PKN 0,1%, dan Buruh 0,0%, sedangkan responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak jawab sebesar 16,5 persen.

 

(Redaksi)

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup